Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ١٢٢٢: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زُهَيْرٍ أَبُو يَعْلَى، بِالْأُبُلَّةِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مُسْلِمٍ- صَاحِبُ الْحِنَّاءِ-، حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ: دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو قَتَادَةَ، وَأَنَا أَغْتَسِلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: أَغُسْلُكَ هَذَا مِنْ جَنَابَةٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: أَعِدْ غُسْلاً آخَرَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، لَمْ يَزَلْ طَاهِرًا إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمْ يَزَلْ طَاهِرًا إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى يُرِيدُ بِهِ مِنَ الذُّنُوبِ، لأَنَّ مَنْ حَضَرَ الْجُمُعَةَ بِشَرَائِطِهَا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.
Shahih Ibnu Hibban 1222: Muhammad bin Zuhair Abu Ya’la di Ubullah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Abdul A'la telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Harun bin Mualim telah menceritakan kepada kami, penguasa daerah Hinna, ia berkata, Aban bin Yazid telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Yahya bin Abu Katsir dari Abdullah bin Abu Qatadah, ia berkata, “Abu Qatadah masuk ke dalam rumahku saat aku sedang mandi Jum’at. Lalu ia bertanya, Apakah mandimu ini karena berjunub’”. Aku menjawab, “Benar”. Ia berkata, “Ulangi lagi mandinya! Karena aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum ’at, maka ia terus menerus suci sampai Jum 'at berikutnya.”25 2:1 Abu Hatim berkata, “Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Maka ia terus menerus suci sampai Jum’at berikutnya” maksudnya adalah suci dari dosa. Karena orang yang menghadiri shalat Jum’at dengan memenuhi syarat-syaratnya, niscaya ia akan diampuni baginya dosa antara Jum 'at tersebut dengan Jum’at selanjutnya.”
Shahih Ibnu Hibban Nomer 1222