Tafsir Al-Qur'an Surah Ya Sin Ayat 69

Tafsir Al-Qur'an Surah Ya Sin Ayat 69

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ ﴿٦٩

wa mā 'allamnāhusy-syi'ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīn

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,


Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Surah Ya Sin Ayat: 69
Firman Allahﷻ:

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ
( Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) ) (Ya Sin, 36:69)

*Allahﷻ menceritakan perihal Nabi-Nya Muhammadﷺ, bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepadanya.

وَمَا يَنْبَغِيْ لَهٗ
( dan bersyair itu tidak layak baginya. ) (Ya Sin, 36:69)

*Nabi Muhammadﷺ diciptakan tidak untuk bersyair. Karena itu, dia tidak dapat bersyair dan tidak menyukainya, serta secara fitrah bukanlah sebagai penyair. Berkaitan dengan hal ini telah disebutkan bahwa beliauﷺ tidak pernah hafal suatu bait pun dengan wazan yang teratur, melainkan beliau mengucapkannya secara acak dan tidak lengkap.

*Abu Dzar'ah Ar-Razi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Mujalid, dari ayahnya, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali Abdul Muttalib melahirkan keturunan, baik laki-laki maupun perempuan, melainkan pandai bersyair, terkecuali Rasulullahﷺ Demikianlah menurut apa yang disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam autobiografi Atabah ibnu Abu La'b yang matinya dimakan oleh singa di Az-Zarqa.

*Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullahﷺ pernah mengutip bait syair berikut: "Cukuplah Islam dan uban menjadi peringatan bagi seseorang.

*Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, bunyi syair itu sebenarnya harus seperti ini: "Cukuplah Uban dan Islam menjadi peringatan bagi seseorang.

*Abu Bakar atau Umar berkata: Aku bersaksi sesungguhnya engkau adalah Rasulullah, Allah berfirman: ( Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. ) (Ya Sin, 36:69)

*Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Mugirah, dari Asy-Sya'bi, dari Aisyah¥ yang mengatakan bahwa Rasulullahﷺ apabila merasa ragu terhadap suatu berita, maka beliau mengutip ucapan syair Tarfah yang mengatakan: "dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menghadapinya).

*Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasa'i di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui jalur Ibrahim ibnu Muhajir, dari Asy-Sya'bi. Imam Turmuzi dan juga Imam Nasa'i telah meriwayatkan pula hal yang semisal melalui hadis Al-Miqdam ibnu Syuraih ibnu Hani', dari ayahnya, dari Aisyah¥ Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

*Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Usamah, dari Za-id, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas£ yang mengatakan bahwa Rasulullahﷺ pernah mengutip ucapan penyair yang bunyinya seperti berikut: dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menghadapinya).

*Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa diriwayatkan pula oleh selain zaidah, dari Sammak, dari Atiyyah, dari Aisyah¥

*Apa yang telah disebutkan di atas merupakan petikan dari syair Tarfah ibnul Abd dalam Mu'allaqat-nya yang terkenal itu. Bait yang telah disebutkan merupakan kalimat akhirnya, sedangkan permulaannya adalah seperti berikut:

"Hari-hari (masa) akan menampakkan kepadamu banyak hal yang belum kamu ketahui, dan akan datang seseorang kepadamu membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menyambutnya). Dan akan datang membawa berita kepadamu seseorang yang kamu tidak pernah berjual beli dengannya sama sekali dan belum pernah pula kamu membuat suatu janji dengannya.

*Sa'id ibnu Abu Urwah telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa pernah ditanyakan kepada Siti Aisyah¥, "Apakah dahulu Rasulullahﷺ pernah mengutip sesuatu dari bait syair? Siti Aisyah¥ menjawab bahwa syair merupakan perkataan yang paling tidak disukai oleh beliau. Hanya saja beliau pernah mengutip bait syair saudaraku dari Bani Qais, maka beliau menjadikannya terbalik, yang awal diakhirkan dan yang akhir diawalkan. Lalu Abu Bakar£ berkata, "Bukan begitu, wahai Rasulullahﷺ maka beliauﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku, demi Allah, bukanlah seorang penyair, dan bersyair itu tidak layak bagiku.

*Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir, lafaz hadis di atas berdasarkan apa yang ada pada Ibnu Jarir.

*Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah, telah sampai kepadanya suatu berita yang mengatakan bahwa Aisyah¥ pernah ditanya, "Apakah Rasulullahﷺ pernah mengutip kata-kata seorang penyair? Maka Siti Aisyah¥. menjawab, "Tidak, kecuali bait syair milik Tarfah, yaitu: Hari-hari akan menampakkan kepadamu banyak hal yang kamu belum tahu, dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menyambutnya). Beliauﷺ mengucapkannya secara terbalik, yaitu: "Man lam tuzawwad bil akhbar. Maka Abu Bakar berkata, "Bukan demikian. Lalu Rasulullahﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku bukan seorang penyair, dan bersyair itu tidak layak bagiku.

*Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Hafs Umar ibnu Ahmad ibnu Na'im wakil Al-Muttaqi di Bagdad, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad alias Abdullah ibnu Hilal An-Nahwi yang tuna netra, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Amr Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah¥ yang mengatakan bahwa Rasulullahﷺ belum pernah mengucapkan suatu bait syair pun secara lengkap kecuali syair berikut: "Bersikap optimislah terhadap sesuatu yang kamu sukai, niscaya kamu dapat meraihnya; karena jarang sesuatu yang sering disebut-sebut, melainkan terlaksana.

*Selanjutnya Al-Baihaqi mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada gurunya (yaitu Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Mazi) mengenai hadis ini. Dia mengatakan, hadis ini berpredikat munkar karena ada dua perawinya yang tidak dikenal.

*Disebutkan dalam kitab sahih bahwa Nabiﷺ pada hari penggalian parit mengutip bait-bait syair Abdullah ibnu Rawwahah£, tetapi beliau mengikuti ucapan para sahabatnya karena saat itu mereka mendendangkan syair tersebut sambil menggali parit. Mereka mengatakan:

"Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tentulah kami tidak mendapat petunjuk, dan tidak bersedekah serta tidak salat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, dan teguhkanlah kaki kami saat menghadapi musuh. Sesungguhnya mereka (golongan-golongan yang bersekutu itu) telah berbuat melampaui batas terhadap kami. Apabila mereka menghendaki fitnah terhadap diri kami, maka kami menolaknya.

*Nabiﷺ mengucapkan kalimat abaina dengan suara keras dan nada yang panjang. Hal ini telah diriwayatkan pula di dalam kitab Sahihain.

*Hal yang semisal telah terbuktikan bahwa Nabiﷺ dalam Perang Hunain mengutip ucapan seorang penyair berikut seraya menunggangi hewan begalnya maju menguak barisan musuh, yaitu: "Aku adalah nabi, tidak pernah dusta; aku adalah putra Abdul Muttalib.

*Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa hal ini terjadi secara kebetulan tanpa sengaja bertepatan dengan wazan syair, bahkan tanpa sengaja Nabiﷺ mengucapkannya.

*Demikian pula apa yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Jundub ibnu Abdullah£ yang telah menceritakan bahwa ketika kami (para sahabat) bersama Rasulullahﷺ dalam sebuah gua, tiba-tiba jari telunjuk beliau terluka hingga berdarah. Maka Nabiﷺ bersabda: "Tidaklah engkau ini selain jari telunjuk yang terluka padahal dalam perang sabilillah engkau tidak mengalami hal ini.

*Dan nanti dalam tafsir surat An-Najm, 53:32 akan disebutkan bahwa Nabiﷺ pernah mengatakan kalimat berikut yang secara kebetulan sesuai dengan wazan syair: "Jika Engkau mengampuni, ya Allah, Engkau mengampuni dosa-dosa yang banyak, dan tiada seorang hamba pun yang tidak pernah berbuat kesalahan terhadap Engkau.

*Semuanya ini tidaklah bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau Saw adalah seorang yang tidak mengenal syair dan bersyair itu tidak layak baginya, karena sesungguhnya Allahﷻ hanya mengajarkan kepadanya Al-Qur'an:

لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ تَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ
( Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. ) (Fussilat, 41:42)

*Al-Qur'an bukanlah syair, tidak sebagaimana yang disangka oleh segolongan orang-orang bodoh dari kalangan Kuffar Quraisy, bukan tenung, bukan buat-buatan, bukan pula sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu seperti yang diduga oleh pendapat-pendapat yang sesat dan pendapat-pendapat orang-orang yang bodoh. Sesungguhnya Rasulullahﷺ secara fitrah menolak syair, dan beliau bukanlah diciptakan sebagai penyair.

*Imam Abu Daud mengatakan telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Suwaid, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Syurahbil ibnu Yazid Al-Ma'afiri, dari Abdur Rahman ibnu Rafi' At-Tanukhi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr£ mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullahﷺ bersabda:

مَا اُبَالِيْ مَا اُوْتِيْتُ اِنْ اَنَا۠ شَرِبْتُ تِرْيَاقًا اَوْ تَعَلَّقْتُ تَمِيْمَةً اَوْ قُلْتُ الشِّعْرَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِي
( "Aku tidak peduli terhadap apa yang diberikan kepadaku jika aku minum tiryaq (air jampi), atau mengalungkan jimat, atau mengatakan syair dari diriku sendiri. )

Hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara tunggal.

*Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Al-Aswad ibnu Syaiban, dari Abu Naufal yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah¥, "Apakah Rasulullahﷺ setuju bila diucapkan syair di hadapannya? Maka Aisyah¥ menjawab, "Syair adalah perkataan yang paling tidak disukai olehnya.

*Telah diriwayatkan pula dari Siti Aisyah¥ bahwa Rasulullahﷺ menyukai doa-doa yang singkat dan padat, dan beliau sering mengucapkan doa yang demikian.

*Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah£, dari Nabiﷺ yang telah bersabda: :Hendaklah seseorang di antara kalian memenuhi perutnya dengan nanah adalah lebih baik baginya daripada memenuhi dirinya dengan syair.

*Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid dari jalur ini, sanadnya dengan syarat Syaikhain (dapat diterima), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

*Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Quza'ah ibnu Suwaid Al-Bahili, dari Asim ibnu Makhlad, dari Abul Asy'as As-San'ani, dan telah menceritakan kepada kami Al-Asy-yab, ia telah meriwayatkan dari Ibnu Asim, dari Al-Asy'as, dari Syaddad ibnu Aus£ yang mengatakan bahwa Rasulullahﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang membuat satu bait syair sesudah salat Isya, maka tidak diterima darinya salat malam itu.

*Hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalurnya, tiada seorang pun dari Sittah yang mengetengahkannya. Yang dimaksud dalam hadis ini ialah membuat syair, bukan mengucapkannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*Perlu diketahui bahwa di antara syair itu ada yang disyariatkan, misalnya syair untuk menyerang kaum musyrik seperti yang pernah dilakukan oleh para penyair Islam di masa Nabiﷺ Para tokohnya, antara lain Hassan ibnu Sabit, Ka'b ibnu Malik, Abdullah ibnu Rawwahah, dan lain-lainnya, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

*Di antara syair ada yang bersubjekkan hikmah-hikmah, pelajaran-pelajaran, dan etika-etika, seperti yang dijumpai pada syair sejumlah penyair masa Jahiliah yang antara lain Umayyah ibnu Abus Silt yang dinilai oleh Rasulullahﷺ melalui sabdanya: "Syairnya beriman, tetapi hatinya kafir.

*Salah seorang sahabat pernah mendendangkan syair sebanyak seratus bait syair untuk Nabiﷺ, dan sesudah tiap bait syair beliauﷺ mengatakan, "Terus, yakni memintanya agar meneruskan bait-bait syairnya.

*Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ubay ibnu Ka'b, Buraidah ibnul Khasib, serta Abdullah ibnu Abbas, bahwa Rasulullahﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya di dalam paramasastra itu terdapat pengaruh yang memukaukan seperti pengaruh sihir, dan sesungguhnya di antara syair itu ada yang mengandung hikmah.

Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ
( Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya. ) (Ya Sin, 36:69)

Maksudnya, Allah tidak mengajarkan syair kepada Muhammadﷺ

وَمَا يَنْبَغِيْ لَهٗ
( dan bersyair itu tidak layak baginya. ) (Ya Sin, 36:69)

Yaitu tidak pantas baginya bersyair.

اِنْ هُوَ
( Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah ) (Ya Sin, 36:69)

Yakni apa yang Kami ajarkan kepadanya itu.

اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ
( tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. ) (Ya Sin, 36:69)

Yakni yang jelas dan gamblang bagi orang yang mau merenungkan dan memikirkannya. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا
( supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup. ) (Ya Sin, 36:70)


Tafsir Jalalain  Tafsir Muyassar