Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ٢٠٣٩: أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْمَعَافِرِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ، فَخُطْوَتَاهُ خُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، وَخَطْوَةٌ تَكْتُبُ حَسَنَةً، ذَاهِبًا وَرَاجِعًا.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الْعَرَبُ تُضِيفُ الْفِعْلَ إِلَى الأَمْرِ، كَمَا تُضِيفُ إِلَى الْفَاعِلِ، وَرُبَّمَا أَضَافَتِ الْفِعْلَ إِلَى الْفِعْلِ نَفْسِهِ كَمَا تُضِيفُهُ إِلَى الأَمْرِ فَإِخْبَارُ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَلَقَ رَأْسَهُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، أَرَادَ بِهِ أَنَّ الْحَالِقَ فَعَلَ ذَلِكَ بِهِ لاَ نَفْسُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُضِيفَ الْفِعْلُ إِلَى الأَمْرِ، كَمَا يُضَافُ ذَلِكَ إِلَى الْفَاعِلِ، وَفِي خَبَرِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، الَّذِي ذَكَرْنَاهُ خُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، أَضَافَ الْفِعْلَ إِلَى الْفِعْلِ، لاَ أَنَّ الْخُطْوَةَ تَمْحُو السَّيِّئَةَ نَفْسَهَا، وَلَكِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلاَ هُوَ الَّذِي يَتَفَضَّلُ عَلَى عَبْدِهِ بِذَلِكِ.
Shahih Ibnu Hibban 2039: Ibnu Qutaibah mengabarkan kepada kami, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Huyay bin Abdullah Al Ma'afiri menceritakan kepadaku dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Nabi bersabda, “Siapa saja yang berangkat pada sore hari menuju masjid jamaah (masjid yang digunakan untuk shalat jamaah), maka dengan kedua langkahnya, setiap langkah akan menghapus keburukan (dosa) dan langkah satunya lagi menulis kebaikan, baik ketika berangkat maupun pulangnya” 436 1:2 Abu Hatim berkata, “Orang-orang Arab menyandarkan perbuatan pada perintah sebagaimana menyandarkan pada pelakunya. Terkadang juga menyandarkan perbuatan pada perbuatan itu sendiri sebagaimana menyandarkan kepada perintah. Riwayat Ibnu Amr, bahwa Nabi mencukur rambut kepalanya pada haji Wada', maksudnya adalah tukang cukur yang melakukannya, bukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, perbuatan disandarkan pada perintah sebagaimana disandarkan pada pelaku. Dalam riwayat Abdullah bin Amr yang telah kami sebutkan, “Setiap langkah akan menghapus keburukan (dosa)”, perbuatan disandarkan pada perbuatan. Jadi, bukannya langkah itu sendiri yang menghapus keburukan, akan tetapi Allahlah yang memberi karunia kepada hamba-Nya akibat perbuatan tersebut.”
Shahih Ibnu Hibban Nomer 2039