Hadits Shahih Ibnu Hibban

Hadits Shahih Ibnu Hibban

Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani

Biografi Ibnu Hibban


صحيح ابن حبان ٢١٩٥: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ قَحْطَبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ زِيَادٍ الأَعْلَمِ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ، قَالَ‏:‏ فَرَكَعْتُ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ هَذَا الْخَبَرُ مِنَ الضَّرْبِ الَّذِي ذَكَرْتُ فِي كِتَابِ فُصُولِ السُّنَنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ يَنْهَى عَنْ شَيْءٍ فِي فِعْلٍ مَعْلُومٍ وَيَكُونُ مُرْتَكِبُ ذَلِكَ الشَّيْءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ مَأْثُومًا بِفِعْلِهِ ذَلِكَ إِذَا كَانَ عَالِمًا بِنَهْيِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ، وَالْفِعْلُ جَائِزٌ عَلَى مَا فَعَلَهُ كَنَهْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ أَوْ يَسْتَامَ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ، فَإِنْ خَطَبَ امْرُؤٌ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ بَعْدَ عِلْمِهِ بِالنَّهْيِ عَنْهُ كَانَ مَأْثُومًا، وَالنِّكَاحُ صَحِيحٌ، فَكَذَلِكَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَبِي بَكْرَةَ‏:‏ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ، فَإِنْ عَادَ رَجُلٌ فِي هَذَا الْفِعْلِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ وَكَانَ عَالِمًا بِذَلِكَ النَّهْيِ كَانَ مَأْثُومًا فِي ارْتِكَابِهِ الْمَنْهِيَّ، وَصَلاَتُهُ جَائِزَةٌ؛ وَلأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَاحَ هَذَا الْقَدْرَ لأَبِي بَكْرَةَ مُسْتثْنًى مِنْ جُمْلَةِ مَا نَهَاهُ عَنْهُ فِي خَبَرِ وَابِصَةَ كَالْمُزَابَنَةِ وَالْعَرِيَّةِ وَلَوْ لَمْ تَجُزِ الصَّلاَةُ بِهَذَا الْوَصْفِ لأَبِي بَكْرَةَ لَأَمَرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِعَادَةِ الصَّلاَةِ، وَقَوْلُهُ‏:‏ وَلاَ تَعُدْ أَرَادَ بِهِ لاَ تَعُدُ فِي إِبْطَاءِ الْمَجِيءِ إِلَى الصَّلاَةِ لاَ أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ أَنْ لاَ تَعُودَ بَعْدَ تَكْبِيرِكَ فِي اللُّحُوقِ بِالصَّفِّ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2195: Abdullah bin Qahthabah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid bin Zurai menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa'id bin Abi Arubah menceritakan kepada kami dari Ziyad Al A'lam, dari Al Hasan, dari Abu Bakrah, bahwa Dia masuk masjid saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang ruku. Abu Bakrah berkata, “Lalu aku ruku di belakang shaf, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan kamu ulangi lagi’.” 1:33 Abu Hatim RA berkata, “Khabar ini termasuk bagian dari apa yang telah kami uraikan dalam Fushul As-Sunan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang melarang sesuatu dalam perbuatan yang telah diketahui, dan pelakunya berdosa bila melanggarnya, bila orang tersebut telah mengetahui larangan tersebut. Sementara perbuatan itu sendiri tetap diperbolehkan. Seperti larangan bagi seorang laki-laki untuk melamar perempuan yang telah dilamar saudaranya, atau menawar barang yang telah ditawar saudaranya. Bila seseorang melamar perempuan yang telah dilamar saudaranya setelah dia mengetahui larangan tersebut, maka dia berdosa, tapi nikahnya sah. Begitu pula sabda Nabi kepada Abu Bakrah, ‘Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan kamu ulangi lagi’. Apabila dia mengulangi perbuatan tersebut, padahal dia telah mengetahui larangan tersebut, maka dia berdosa karena melanggar larangan, akan tetapi shalatnya tetap sah. Lagi pula, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan hal ini pada Abu Bakrah, yang merupakan pengecualian dari larangan beliau dalam khabar riwayat Wabishah, seperti muzabanah dan ariyyah. Seandainya shalat yang dilakukan Abu Bakrah tersebut tidak sah, tentu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan menyuruhnya mengulanginya. Adapun redaksi, ‘jangan kamu ulangi’, maksudnya adalah jangan mengulangi lagi perbuatan datang terlambat dalam menunaikan shalat, dan maksudnya bukan tidak boleh bergabung dengan shaf setelah takbir.”

Shahih Ibnu Hibban Nomer 2195