Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury
صحيح ابن خزيمة ١٢٠٩: ثنا بُنْدَارٌ، ثنا مُحَمَّدٌ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ ضَمْرَةَ قَالَ: سَأَلْتُ عَلِيًّا عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: " فَفِي هَذَا الْخَبَرِ خَبَرِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَدْ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ رَكْعَتَيْنِ مَرَّتَيْنِ، فَأَمَّا ذِكْرُ الْأَرْبَعِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَالْأَرْبَعِ قَبْلَ الْعَصْرِ، فَهَذِهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُجْمَلَةِ الَّتِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَخْبَارُ الْمُفَسِّرَةُ، فَدَلَّ خَبَرُ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى» ، أَنَّ كُلَّ مَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّهَارِ مِنَ التَّطَوُّعِ، فَإِنَّمَا صَلَّاهُنَّ مَثْنَى مَثْنَى عَلَى مَا خَبَّرَ أَنَّهَا صَلَاةُ النَّهَارِ وَاللَّيْلِ جَمِيعًا، وَلَوْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمٍ كَانَ هَذَا عِنْدَنَا مِنَ الِاخْتِلَافِ الْمُبَاحِ، فَكَانَ الْمَرْءُ مُخَيَّرًا بَيْنَ أَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ بِالنَّهَارِ، وَبَيْنَ أَنْ يُسَلِّمَ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ. وَقَوْلُهُ فِي خَبَرِ عَلِيٍّ: وَيَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، فَهَذِهِ اللَّفْظَةُ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ، أَحَدُهُمَا أَنَّهُ كَانَ يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَشَهُّدٍ، إِذْ فِي التَّشَهُّدِ التَّسْلِيمُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَهَذَا مَعْنًى يَبْعُدُ، وَالثَّانِي أَنَّهُ كَانَ يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ الَّذِي هُوَ فَصْلٌ بَيْنَ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ مَا بَعْدَهُمَا مِنَ الصَّلَاةِ، وَهَذَا هُوَ الْمَفْهُومُ فِي الْمُخَاطَبَةِ؛ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ لَا يُطْلِقُونَ اسْمَ الْفَصْلِ بِالتَّشَهُّدِ مِنْ غَيْرِ سَلَامٍ يَفْصِلُ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ مَا بَعْدَهُمَا، وَمُحَالٌ مِنْ جِهَةِ الْفِقْهِ أَنْ يُقَالَ: يُصَلِّي الظُّهْرَ أَرْبَعًا، يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِسَلَامٍ، أَوِ الْعَصْرَ أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِسَلَامٍ، أَوِ الْمَغْرِبَ ثَلَاثًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِسَلَامٍ، أَوِ الْعِشَاءَ أَرْبَعًا يَفْصِلُ ص:220 بَيْنَهُمَا بِسَلَامٍ، وَإِنَّمَا يَجِبُ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَرْءُ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْعِشَاءَ، كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ أَرْبَعَةً مَوْصُولَةً لَا مَفْصُولَةً، وَكَذَلِكَ الْمَغْرِبَ يَجِبُ أَنْ يُصَلِّيَ ثَلَاثًا مَوْصُولَةً لَا مَفْصُولَةً، وَيَجِبُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الْوَصْلِ وَبَيْنَ الْفَصْلِ، وَالْعُلَمَاءُ مِنْ جِهَةِ الْفِقْهِ لَا يَعْلَمُونَ الْفَصْلَ بِالتَّشَهُّدِ مِنْ غَيْرِ تَسْلِيمٍ يَكُونُ بِهِ خَارِجًا مِنَ الصَّلَاةِ، ثُمَّ يُبْتَدَأُ فِيمَا بَعْدَهَا، وَلَوْ كَانَ التَّشَهُّدُ يَكُونُ فَصْلًا بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ مَا بَعْدُ، لَجَازَ لِمُصَلٍّ إِذَا تَشَهَّدَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ، يَجُوزُ أَنْ يَتَطَوَّعَ بَعْدَهَا، أَنْ يَقُومَ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَيَبْتَدِأ فِي التَّطَوُّعِ عَلَى الْعَمْدِ، وَكَذَاكَ كَانَ يَجُوزُ لَهُ أن يَتَطَوَّعُ مِنَ اللَّيْلِ بِعَشْرِ رَكَعَاتٍ وَأَكْثَرَ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ يَتَشَهَّدُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، لَوْ كَانَ التَّشَهُّدُ فَصْلًا بَيْنَ مَا مَضَى وَبَيْنَ مَا بَعْدُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَهَذَا خِلَافُ مَذْهَبِ مُخَالِفِينَا مِنَ الْعِرَاقِيِّينَ "
Shahih Ibnu Khuzaimah 1209: Bundar menceritakan kepada kami, Muhammad menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Ishak, ia berkata: Aku mendengar Ashim bin Dhamrah berkata, "Aku pernah bertanya kepada Ali tentang shalatnya Rasulullah kemudian dia menyebutkan redaksi hadits ini. Abu Bakar berkata, "Di dalam periwayatan hadits ini yakni hadits Ali bin Abu Thalib telah disebutkan sebeltimnya bahwa beliau shalat di siang hari dua rakaat sebanyak dua kali. Sedangkan lafazh yang menyebutkan empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sebelum Ashar adalah lafazh mujmal (global) yang perlu dijelaskan dengan hadits lain. Hadits riwayat Ibnu Umar dari Nabi menunjukkan bahwa shalat di malam hari dan di siang hari dua rakaat dua rakaat, yaitu menyatakan bahwa semua shalat sunah yang dilakukan oleh Nabi di siang hari adalah dua rakaat dua rakaat sebagaimana yang menjadi ketentuan bagi shalat di siang hari dan di malam hari secara keseluruhan. Apabila memang terbukti dari Nabi bahwa beliau shalat di siang hari empat rakaat dengan satu kali salam maka menurut kami, ini termasuk perbedaan pendapat yang diperbolehkan. Oleh'karena itu, seseorang diperbolehkan memilih antara shalat empat rakaat di siang hari dengan satu kali salam atau dengan mengucapkan salam pada setiap dua rakaat. Sedangkan perkataanya tentang hadits riwayat Ali, "Dan beliau memisahkan antara tiap-tiap dua rakaat dengan mengucap salam kepada malaikat yang mulia dan orang yang mengikuti mereka dari kaum mukminin," adalah lafazh hadits yang mengandung dua pengertian, yaitu: Pertama, beliau memisahkan antara tiap-tiap dua rakaat dengan tasyahhud sebab di dalam tasyahhud terdapat ucapan salam kepada para malaikat dan orang yang mengikuti mereka dari kaum muslimin. Ini adalah pengertian yang sangat jauh menyimpang. Kedua, beliau memisahkan antara tiap-tiap dua rakaat dengan salam yang menjadi pemisah antara kedua rakaat dan antara shalat yang sesudahnya. Ini adalah pengertian yang sebenarnya dari lafazh tersebut. Karena para ulama tidak menyebutkan pemisahan dengan tasyahhud tanpa ucapan salam adalah sebagai pemisah antara dua rakaat dan antara shalat yang sesudahnya, serta tidak mungkin menurut ilmu fikih untuk mengatakan bahwa beliau shalat Zhuhur empat rakaat yang dipisahkan antara keduanya dengan salam, atau shalat Ashar empat rakaat yang dipisahkan antara keduanya dengan salam, atau shalat Maghrib tiga rakaat yang dipisahkan antara keduanya dengan salam, atau shalat Isya yang dipisahkan antara keduanya dengan salam. Akan tetapi yang wajib adalah mengerjakan shalat Zhuhur, Ashar dan Isya yang setiap shalat tersebut dikerjakan empat rakaat secara bersambung bukan secara terputus. Begitu pula shalat Maghrib yang harus dikerjakan tiga rakaat secara bersambung bukan secara terputus. Ia juga wajib membedakan antara bersambung dan terputus. Para ulama fikih tidak mengartikan pemutusan dengan tasyahhud tanpa mengucapkan salam menjadikan seseorang keluar dari shalat lalu memulai kembali dengan shalat berikutnya. Apabila tasyahhud itu menjadi pemisah antara dua rakaat dan yang berikutnya؛ maka seseorang tentunya diperbolehkan mengerjakan shalat apabila ia melakukan tasyahhud pada setiap shalat untuk mengerjakan shalat sunah setelahnya dengan berdiri kembali tanpa harus mengucap salam lalu memulai kembali shalat sunah dengan disengaja. Lebih jauh, seseorang juga boleh melakukan shalat sepuluh rakaat atau lebih dengan satu salam. Cukup bertasyahhud pada setiap dua rakaat jika tasyahhud adalah pemisah antara yang telah dikerjakan dan yang akan dikerjakan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat mazhab yang bersebrangan dengan kami dari penduduk Irak."
Shahih Ibnu Khuzaimah Nomer 1209