Sunan Ibnu Majah

النكاح

Kitab Nikah

النهي عن التبتل
Larangan hidup seperti pendeta (tidak nikah)

سنن ابن ماجه ١٨٣٩: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ آدَمَ وَزَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ التَّبَتُّلِ زَادَ زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ وَقَرَأَ قَتَادَةُ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sunan Ibnu Majah 1839: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Adam dan Zaid bin Akhzam keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata: telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah berkata: "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melarang At Tabattul (hidup membujang)." Zaid bin Akhzam menambahkan, "Qatadah membaca ayat: " Dan telah Kami utus rasul-rasul sebelum kamu, dan Kami jadikan bagi mereka isteri-isteri dan keturunan." QS. Ar Ra'ad: 38.

Sunan Ibnu Majah Nomer 1839