Hadits Shahih Ibnu Hibban

Hadits Shahih Ibnu Hibban

Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani

Biografi Ibnu Hibban


صحيح ابن حبان ٢٠٩١: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ النُّكْرِيُّ هُوَ الدَّوْرَقِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الْيَعْمُرِيِّ، قَالَ‏:‏ خَطَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، فَقَالَ‏:‏ رَأَيْتُ كَأَنَّ دِيكًا أَحْمَرَ نَقَرَنِي نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ، وَلاَ أَرَى ذَلِكَ إِلاَّ لِحُضُورِ أَجَلِي، فَإِنْ عَجِلَ بِي أَمْرٌ، فَإِنَّ الشُّورَى إِلَى هَؤُلاَءِ الرَّهْطِ السِّتَّةِ الَّذِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ عَنهُمْ رَاضٍ، وَإِنِّي أَعْلَمُ أَنَّ نَاسًا سَيَطْعَنُونَ فِي هَذَا الأَمْرِ، أَنَا قَاتَلْتُهُمْ بِيَدِي هَذِهِ عَلَى الإِسْلاَمِ، فَإِنْ فَعَلُوا، فَأُولَئِكَ أَعْدَاءُ اللهِ، الْكُفَّارُ الضُّلاَّلُ، وَإِنِّي أَشْهَدُ عَلَى أُمَرَاءِ الأَمْصَارِ، فَإِنِّي إِنَّمَا بَعَثْتُهُمْ لِيُعَلِّمُوا النَّاسَ دِينَهُمْ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقْسِمُوا فِيهِمْ فَيْأَهُمْ، وَمَا أَغْلَظَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ أَوْ مَا نَازَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ مِثْلَ آيَةِ الْكَلاَلَةِ حَتَّى ضَرَبَ صَدْرِي وَقَالَ‏:‏ يَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ الَّتِي أُنْزِلَتْ فِي آخِرِ سُورَةِ النِّسَاءِ ‏‏يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ‏‏ وَسَأَقْضِي فِيهَا بِقَضَاءٍ يَعْلَمُهُ مَنْ يَقْرَأُ وَمَنْ لاَ يَقْرَأُ هُوَ مَا خَلاَ الأَبِ وَكَذَا أَحْسَبُ أَلاَ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ مِنْ شَجَرَتَيْنِ لاَ أَرَاهُمَا إِلاَّ خَبِيثَتَيْنِ الْبَصَلِ وَالثُّومِ، وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالرَّجُلِ يُوجَدُ مِنْهُ رِيحُهَا فَيَخْرُجُ إِلَى الْبَقِيعِ، فَمَنْ كَانَ لاَ بُدَّ آكِلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2091: Abu Ya'la mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ibrahim An-Nukri503 —yaitu Ad-Dauraqi— menceritakan kepada kami, dia berkata: Syababah bin Sawwar menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Salim bin Abu Al Ja'd, dari Ma'dan bin Abi Thalhah Al Ya’mari, dia berkata: Umar bin Khattab berkhutbah, “Aku melihat seakan-akan ayam jago merah mematukku satu kali atau dua kali patukan. Aku tidak melihat pertanda ini kecuali ajalku telah dekat. Bila aku wafat terlebih dahulu, Syura aku serahkan kepada enam orang sahabat yang diridhai Rasulullah saat beliau wafat. Aku tahu nanti akan ada orang-orang yang mencela dan menuduhku, bahwa aku memerangi mereka dengan tanganku ini atas nama Islam. Bila mereka melakukannya, maka mereka adalah musuh-musuh Allah, orang-orang kafir yang sesat. Aku telah menyatakan kepada gubernur-gubernur di berbagai wilayah, bahwa aku mengirim mereka untuk mengajarkan kepada manusia urusan agama mereka dan Sunnah nabi mereka, serta membagi harta rampasan perang mereka. Rasulullah tidak pernah begitu keras terhadapku dalam suatu masalah atau dalam sesuatu yang diturunkan kepadanya seperti halnya kerasnya beliau dalam masalah ayat Al Kalalah (orang yang meninggal dunia dan tidak mempunyai orang tua dan anak). Sampai-sampai menepuk dadaku dan bersabda “Cukuplah bagimu ayat Ash-Shaif yang diturunkan pada akhir surat An-Nisa’, “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah’. Aku akan memutuskan dengan keputusan yang dapat diketahui oleh orang yang dapat membaca (dan yang tidak dapat membaca), yaitu orang yang wafat yang tidak meninggalkan ayah (itulah pengertian yang kuketahui berdasarkan pendapatku). Wahai kalian semua, ketahuilah bahwa kalian memakan dua pohon ini – yang menurut kalian pohon tersebut mempunyai bau yang tidak enak -- bawang putih dan bawang merah. Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan orang yang berbau bawang merah dan bawang putih agar dikeluarkan dari masjid lalu di bawa ke al Baqi’. Barangsiapa memakannya, hendaklah menghilangkan baunya dengan dimasak terlebih dahulu” 504 1:6

Shahih Ibnu Hibban Nomer 2091