Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ١٤٦٢: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ النَّهْدِيُّ، حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ بْنُ أَسْمَاءَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَادَى فِيهِمْ يَوْمَ انْصَرَفَ عَنْهُمُ الأَحْزَابُ: أَلاَ لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الظُّهْرَ إِلاَّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ، فَأَبْطَأَ نَاسٌ، فَتَخَوَّفُوا فَوْتَ وَقْتِ الصَّلاَةِ فَصَلُّوا، وَقَالَ آخَرُونَ: لاَ نُصَلِّي إِلاَّ حَيْثُ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ فَاتَ الْوَقْتُ، فَمَا عَنَّفَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدًا مِنَ الْفَرِيقَيْنِ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: لَوْ كَانَ تَأْخِيرُ الْمَرْءِ لِلصَّلاَةِ عَنْ وَقْتِهَا إِلَى أَنْ يَدْخُلَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الْأُخْرَى يَلْزَمُهُ بِذَلِكَ اسْمُ الْكُفْرِ، لَمَّا أَمَرَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ بِالشَّيْءِ الَّذِي يَكْفُرُونَ بِفِعْلِهِ، وَلَعَنَّفَ فَاعِلَ ذَلِكَ، فَلَمَّا لَمْ يُعَنِّفْ فَاعِلَهُ دَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَكْفُرْ كُفْرًا يُشْبِهُ الاِرْتِدَادِ.
Shahih Ibnu Hibban 1462: Umar bin Muhammad Al Hamdani telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yusuf bin Musa Al Qaththan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Malik bin Isma'il An-Nahdi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Juwairiyah bin Asma telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Nafi dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berseru kepada mereka (balatentara Islam) saat balatentara musuh berpaling dari mereka, “Ingatlah! Jangan seorang pun melaksanakan shalat Zhuhur402 kecuali di (pemukiman) Bani Quraizhah! ”saat itu manusia datang terlambat. Mereka khawatir kehabisan waktu shalat. Maka mereka pun melaksanakan shalat (Zhuhur). Namun yang lain berkata, “Kita jangan melaksanakan shalat kecuali bila Rasulullah memerintahkan kepada kita, meskipun waktu (Zhuhur) sudah habis!”. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak mengingkari satu pun pendapat dua golongan tadi”. 25:3 Abu Hatim berkata, “Jika mengakhirkan shalat dari waktunya hingga masuk waktu shalat berikutnya menyebabkan seseorang dijuluki nama kafir, niscaya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak akan menyuruh ummatnya untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka kafir, dan niscaya beliau mengingkari dengan keras orang yang melakukan hal itu. Ketika beliau tidak mengingkari pelakunya, berarti menunjukkan bahwa sang pelaku tidak dihukumi kafir yang derajatnya sama dengan murtad. 403
Shahih Ibnu Hibban Nomer 1462