Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ٢١٨١: أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَطَاءِ بْنِ مُقَدَّمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ، قَالَ: بَيْنَمَا أَنَا بِالْمَدِينَةِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ قَائِمٌ أُصَلِّي فَجَذَبَنِي رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي جَذْبَةً فَنَحَّانِي وَقَامَ مَقَامِي فَوَاللَّهِ مَا عَقَلْتُ صَلاَتِي، فَلَمَّا انْصَرَفَ فَإِذَا هُوَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، قَالَ: يَا ابْنَ أَخِي لاَ يَسُؤْكَ اللَّهُ إِنَّ هَذَا عَهْدٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا أَنْ نَلِيَهُ ثُمَّ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَقَالَ: هَلَكَ أَهْلُ الْعَهْدِ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ ثَلاَثًا، ثُمَّ قَالَ: وَاللَّهِ مَا عَلَيْهِمْ آسَى وَلَكِنْ آسَى عَلَى مَنْ أَضَلُّوا قَالَ: قُلْتُ: مَنْ يَعْنِي بِهَذَا؟ قَالَ: الْأُمَرَاءَ.
Shahih Ibnu Hibban 2181: Ibnu Khuzaimah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Umar bin Ali bin Atha bin Muqaddam menceritakan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Ya'qub As-Sadusi menceritakan kepada kami, dia berkata: Sulaiman At-Taimi menceritakan kepada kami dari Abu Mijlaz, dari Qais642 bin Ubad, dia berkata: Ketika aku sedang berdiri shalat di masjid pada shaf pertama di Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki menarikku dari belakang dan menggeserku, lalu duduk di tempatku berdiri. Aku pun jadi tidak fokus dalam shalatku. Setelah shalat selesai, kuketahui ternyata dia adalah Ubay bin Ka’b. Dia berkata, “Wahai putra saudaraku, jangan sampai Allah menimpakan keburukan kepadamu. Sesungguhnya ini adalah permohonan dari Nabi kepada kami agar kami berada di dekat beliau.” Dia lalu menghadap kiblat dan berkata, ‘Telah hancur orang-orang yang memiliki peijanjian. 643 Demi Tuhan Kabah —tiga kali—”. Dia lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak merasa sedih terhadap mereka, akan tetapi aku sedih terhadap orang-orang yang mereka sesatkan.” Aku pun bertanya, “Siapakah yang engkau maksud?” Dia menjawab, “Para umara (orang-orang pemerintahan).” 644 4:16
Shahih Ibnu Hibban Nomer 2181