Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ٨٠٩: أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَبِيبَةَ حَدَّثَهُ، أَنَّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ، وَخَيْرُ الرِّزْقِ، أَوِ الْعَيْشِ، مَا يَكْفِي.الشَّكُّ مِنِ ابْنِ وَهْبٍ.
Shahih Ibnu Hibban 809: Ibnu Qutaibah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Harmalah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, dia berkata: Usamah bin Zaid mengabarkan kepada kami, bahwa Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Labibah menceritakan kepadanya, bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir yang tersembunyi (dengan suara pelan), sementara sebaik-baik rezeki atau penghidupan adalah yang secukupnya (ala kadarnya). ”8 (1:2) Keraguan yang terdapat pada hadits tersebut (yaitu pada lafazh “atau”) adalah berasal dari Ibnu Wahb.
Shahih Ibnu Hibban Nomer 809