Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury
صحيح ابن خزيمة ١٠٢٤: ثنا بِهِ الرَّبِيعُ مَرَّةً أُخْرَى مِنْ كِتَابِهِ، وَقَالَ: «فَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ مِنْ قَبْلِ السَّلَامِ» . وَقَالَ أَبُو مُوسَى، وَالدَّوْرَقِيُّ، وَيُونُسُ: إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَا يَدْرِي ثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيُصَلِّ رَكْعَةً، وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ السَّلَامِ، ثُمَّ بَاقِي حَدِيثِهِمْ مِثْلُ حَدِيثِ الرَّبِيعِ. قَالَ لَنَا أَبُو بَكْرٍ: فِي هَذَا الْخَبَرِ عِنْدِي دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ صَاحِبَ الْمَالِ إِذَا كَانَ مَالُهُ غَائِبًا عَنْهُ، فَأَخْرَجَ زَكَاتَهُ وَأَوْصَلَهَا إِلَى أَهْلِ سُهْمَانَ الصَّدَقَةِ، نَاوِيًا إِنْ كَانَ مَالُهُ سَالِمًا فَهِيَ زَكَاتُهُ، وَإِنْ كَانَ مَالُهُ مُسْتَهْلَكًا فَهُوَ تَطَوُّعٌ، ثُمَّ بَانَ عِنْدَهُ وَصَحَّ أَنَّ مَالَهُ كَانَ سَالِمًا، أَنَّ مَالَهُ الَّذِي أَوْصَلَهُ إِلَى أَهْلِ سُهْمَانَ الصَّدَقَةِ كَانَ جَائِزًا عَنْهُ فِي الصَّدَقَةِ الْمَفْرُوضَةِ فِي مَالِهِ الْغَائِبِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَازَ عَنِ الْمُصَلِّي هَذِهِ الرَّكْعَةَ الَّتِي صَلَّاهَا بِإِحْدَى اثْنَتَيْنِ، إِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ الَّتِي صَلَّاهَا ثَلَاثًا، فَهَذِهِ الرَّكْعَةُ رَابِعَةُ الَّتِي هِيَ فَرْضٌ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ تَامَّةً فَهَذِهِ الرَّكْعَةُ نَافِلَةٌ، فَقَدْ أَجْزَتْ عَنْهُ هَذِهِ الرَّكْعَةُ مِنَ الْفَرِيضَةِ، وَهُوَ إِنَّمَا صَلَّاهَا عَلَى أَنَّهَا فَرِيضَةٌ أَوْ نَافِلَةٌ
Shahih Ibnu Khuzaimah 1024: Ar-Rabi’ meriwayatkannya kepada kami untuk kedua kalinya dari kitabnya, ia berkata, ‘Ia hendaknya berpedoman pada apa yang diyakininya, kemudian sujud dua kali sebelum salam." Abu Musa Ad-Dauraqi dan Yunus berkata, “Apabila salah seorang di antara kamu merasa ragu di dalam shalatnya dan tidak mengetahui apakah tiga rakaat atau empat rakaat, maka ia hendaknya shalat satu rakaat lalu sujud dua kali sebelum salam." Redaksi selanjutnya sama seperti hadits Ar-Rabi’. Abu Bakar berkata kepada kami, “Abu Bakar berkata, "Menurutku, dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa apabila pemilik harta memiliki harta yang tidak ada bersama dirinya, kemudian ia mengeluarkan zakatnya dan memberikannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkan zakat, dengan niat jika harta tersebut kembali dimilikinya maka itu adalah zakatnya dan jika hartanya lenyap maka itu dianggap sebagai sedekah. Setelah itu terbukti bahwa hartanya selamat dan kembali lagi maka dengan demikian uang yang telah diserahkannya sebagai zakat kepada orang- orang yang berhak menerimanya sah. Karena Nabi pernah memberikan izin bagi orang yang telah shalat untuk memilih antara dua pilihan, jika shalat yang telah dilakukannya sebanyak tiga rakaat, maka rakaat selanjutnya adalah rakaat keempat yang merupakan bagian wajib baginya. Namun jika shalat yang telah dilakukannya sempurna (jumlah rakaatnya tidak kurang) maka rakaat yang dilakukan melebihi jumlah yang telah ditentukan dianggap sebagai tambahan (nafilah). Hal ini sah-sah saja apabila terjadi dalam sebuah perintah wajib dan itu dilakukan dengan anggapan bahwa hal itu adalah sebuah kewajiban atau sunah."
Shahih Ibnu Khuzaimah Nomer 1024