Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury
صحيح ابن خزيمة ١٢٦١: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ الدَّوْرَقِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ مُصْعَبٍ، نا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ، فَإِذَا أَرَادَ الْمَكْتُوبَةَ أَوِ الْوِتْرَ أَنَاخَ فَصَلَّى بِالْأَرْضِ» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «تَوَهَّمَ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ هَذَا الْخَبَرَ دَالٌ عَلَى خِلَافِ خَبَرِ ابْنِ عُمَرَ، وَاحْتَجَّ بِهَذَا الْخَبَرَ أَنَّ الْوِتْرَ غَيْرُ جَائِزٍ عَلَى الرَّاحِلَةِ، وَهَذَا غَلَطٌ وَإِغْفَالٌ مِنْ قَائِلِهِ، وَلَيْسَ هَذَا الْخَبَرُ عِنْدَنَا وَلَا عِنْدَ مَنْ يُمَيِّزُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ يُضَادُّ خَبَرَ ابْنِ عُمَرَ، بَلِ الْخَبَرَانِ جَمِيعًا مُتَّفِقَانِ مُسْتَعْمَلَانِ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَخْبَرَ بِمَا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ، وَيَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ الْخَبَرَيْنِ جَمِيعًا إِجَازَةَ كِلَا الْخَبَرَيْنِ. قَدْ رَأَى ابْنُ عُمَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَأَدَّى مَا رَأَى، وَرَأَى جَابِرٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ فَأَوْتَرَ بِالْأَرْضِ، فَأَدَّى مَا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَائِزٌ أَنْ يُوتِرَ الْمَرْءُ عَلَى رَاحِلَتِهِ كَمَا فَعَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَائِزٌ أَنْ يُنِيخَ رَاحِلَتَهُ فَيَنْزِلُ فَيُوتِرُ عَلَى الْأَرْضِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ فَعَلَ الْفِعْلَيْنِ جَمِيعًا، وَلَمْ يَزْجُرْ عَنْ أَحَدِهِمَا بَعْدَ فِعْلِهِ، وَهَذَا مِنَ اخْتِلَافِ الْمُبَاحِ. وَلَوْ لَمْ يُوتِرِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْأَرْضِ، وَقَدْ أَوْتَرَ عَلَى الرَّاحِلَةِ كَانَ غَيْرُ جَائِزٍ لِلْمُسَافِرِ الرَّاكِبِ أَنْ يَنْزِلَ فَيُوتِرُ عَلَى الْأَرْضِ، وَلَكِنْ لَمَّا فَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلَيْنِ جَمِيعًا، كَانَ الْمُوتِرُ بِالْخِيَارِ فِي السَّفَرِ إِنْ أَحَبَّ أَوْتَرَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، وَإِنْ شَاءَ نَزَلَ فَأَوْتَرَ عَلَى الْأَرْضِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ مِنْ سُنَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْجُورًا إِذَا أَمْكَنَ اسْتِعْمَالُهُ، وَإِنَّمَا يُتْرَكُ بَعْضُ خَبَرِهِ بِبَعْضٍ إِذَا لَمْ يُمْكِنِ اسْتِعْمَالُهَا جَمِيعًا، وَكَانَ أَحَدُهُمَا يَدْفَعُ الْآخَرَ فِي جَمِيعِ جِهَاتِهِ، فَيَجِبُ حِينَئِذٍ طَلَبُ النَّاسِخِ مِنَ الْخَبَرَيْنِ وَالْمَنْسُوخِ مِنْهُمَا، وَيُسْتَعْمَلُ النَّاسِخُ دُونَ الْمَنْسُوخِ، وَلَوْ جَازَ لِأَحَدٍ أَنْ يَدْفَعَ خَبَرَ ابْنِ عُمَرَ بِخَبَرِ جَابِرٍ كَانَ أَجْوَزَ لَآخَرَ أَنْ يَدْفَعَ خَبَرَ جَابِرٍ بِخَبَرِ ابْنِ عُمَرَ؛ لِأَنَّ أَخْبَارَ ابْنِ عُمَرَ فِي وِتْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَكْثَرُ أَسَانِيدَ، وَأَثْبَتُ، وَأَصَحُّ مِنْ خَبَرِ جَابِرٍ، وَلَكِنْ غَيْرُ جَائِزٍ لِعَالِمٍ أَنْ يَدْفَعَ أَحَدَ هَذَيْنِ الْخَبَرَيْنِ بِالْآخَرِ بَلْ يُسْتَعْمَلَانِ جَمِيعًا عَلَى مَا بَيَّنَّا، وَقَدْ خَرَّجْتُ طُرُقَ خَبَرِ ابْنِ عُمَرَ فِي كِتَابِ» الْكَبِيرُ "
Shahih Ibnu Khuzaimah 1261: Ya’qub AdDauraqi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Mush’ab menceritakan kepada kami, Al Auza’i menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, "Rasulullah shalat ketika bepergian ke arah binatang tunggangannya menghadap, apabila beliau ingin shalat wajib atau witir maka beliau menderumkan tunggangan beliau lalu shalat di atas tanah." Abu Bakar berkata, "Sebagian orang menyangka bahwa hadits ini menjadi dalil yang menentang hadits Ibnu Umar dan menggunakannya sebagai dalil bahwa shalat witir tidak toleh dilaksanakan di atas binatang tunggangan. Ini tentunya sebuah kesalahan dan kekeliruan bagi orang yang berpendapat seperti itu. Hadits ini menurut kami, dan menurut orang yang dapat membedakan antara hadits sejalan dengan hadits Ibnu Umar, bahkan kedua hadits tersebut saling menguatkan dan dapat digunakan sebagai dalil. Kedua hadits tersebut juga telah diriwayatkan sesuai dengan apa yang Nabi kenakan dan bagi yang mengetahui status kedua hadits tersebut toleh menggunakannya sebagai dalil. Ibnu Umar telah melihat Nabi shalat witir di atas tunggangannya maka ia mengerjakannya seperti apa yang dilihatnya, sementara Jabir melihat Nabi menderumkan tunggangannya terlebih dahulu lalu beliau shalat witir di atas tanah kemudian ia mengerjakannya seperti yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka dari itu, seseorang boleh melaksanakan shalat witir di atas tunggangannya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi atau juga setelah menderumkan tunggangannya lalu turun dan shalat witir di atas tanah, sebab kedua cara tersebut pernah dilakukan Nabi serta tidak melarang setelah beliau melakukannya. Dengan demikian hal ini termasuk perbedaan yang diperbolehkan. Apabila Nabi tidak mengerjakan shalat witir di atas tanah dan beliau hanya mengerjakan shalat witir di atas tunggangannya maka orang yang bepergian dengan mengendarai binatang tunggangan tidak boleh turun untuk shalat witir di atas tanah. Akan tetapi karena Nabi pernah mengerjakan keduanya maka orang yang ingin mengerjakan shalat witir ketika bepergian boleh memilih antara mengerjakan shalat witir di atas tunggangannya atau turun dari tunggangannya lalu shalat witir di atas tanah. Tidak ada sesuatu dari Sunnah Nabi yang ditinggalkan jika memungkinkan untuk menggunakannya, akan tetapi sebagian haditsnya dari sebagian lainnya ditinggalkan jika tidak memungkinkan untuk digunakan secara keseluruhan, yaitu jika salah satu dari keduanya menyelisihi yang lainnya dari semua segi. Jika demikian, maka pada saat itu harus dicari dalil yang berfungsi menghapus salah satu dari keduanya, lalu menggunakan hadits yang menghapus bukan hadits yang dihapus. Jika seseorang boleh membatalkan hadits Ibnu Umar dengan hadits Jabir maka orang lain lebih berhak untuk membatalkan hadits Jabir dengan hadits Ibnu Umar, sebab hadits Ibnu Umar tentang shalat witir yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas tunggangannya lebih banyak sanadnya serta lebih kuat dan lebih benar dari hadits Jabir. Akan tetapi dalam hal ini bagi orang yang mempunyai ilmu tidak boleh membatalkan salah satu hadits dari keduanya ini dengan yang lain, bahkan ia semestinya menggunakan keduanya sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Mengenai jalur periwayatan hadits Ibnu Umar, Aku telah menjelaskannya dalam kitab Al Kabir."
Shahih Ibnu Khuzaimah Nomer 1261