Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ١٦٧٢: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، مَوْلَى ثَقِيفٍ، حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الإِمَامُ ضَامِنٌ، وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللَّهُ الأَئِمَّةَ، وَغَفَرَ لِلْمُؤَذِّنِينَ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: الْفَرْقُ بَيْنَ الْعَفْوِ وَالْغُفْرَانِ، أَنَّ الْعَفْوَ قَدْ يَكُونُ مِنَ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلاَ لِمَنِ اسْتَوْجَبَ النَّارَ مِنْ عِبَادِهِ، قَبْلَ تَعْذِيبِهِ إِيَّاهُمْ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ بَعْدَ تَعْذِيبِهِ إِيَّاهُمُ الشَّيْءَ الْيَسِيرَ، ثُمَّ يَتَفَضَّلُ عَلَيْهِمْ جَلَّ وَعَلاَ بِالْعَفْوِ، إِمَّا مِنْ حَيْثُ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ، وَإِمَّا بِشَفَاعَةِ شَافِعٍ، وَالْغُفْرَانُ هُوَ الرِّضَا نَفْسُهُ، وَلاَ يَكُونُ الْغُفْرَانُ مِنْهُ جَلَّ وَعَلاَ لِمَنِ اسْتَوْجَبَ النِّيرَانَ بِفَضْلِهِ، إِلاَّ وَهُوَ يَتَفَضَّلُ عَلَيْهِمْ بِأَنْ لاَ يُدْخِلَهُمْ إِيَّاهَا بِحَيْلِهِ.
Shahih Ibnu Hibban 1672: Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim hamba sahaya Tsaqif telah mengabarkan kepada kami, Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, Abdul Azis bin Muhammad telah menceritakan kepada kami sebuah hadits dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Imam itu orang bertanggungjawab, Muadzin itu adalah orang yang dipercaya. Maka Allah memberi petunjuk kepada para imam, dan memberi ampunan kepada para muadzin”.712 1:2 Abu Hatim berkata, “terdapat perbedaan antara lafadz Al Afwu dengan Al Ghufran. Al Afwu (yang mempunyai arti maaf) diberikan Allah Jalla wa ‘Alaa kepada hamba-hamba-Nya yang berhak masuk dalam siksa api neraka, Al Afwu ini diberikan sebelum mereka disiksa dalam api neraka -kita berlindung daripadanya- terkadang juga diberikannya setelah mereka menjalani sedikit proses siksaan api neraka kemudian atas karunia Allah Jalla wa ‘Alaa kepada mereka, maka diberikan Al Afwu, baik itu atas kehendak-Nya sendiri atau melalui perantara syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam Sedangkan Al Ghufran itu adalah ridha Allah semata, ini diberikan kepada hamba- hamba-Nya yang akan mendapat siksa neraka. Tetapi atas karunia dari-Nya kepada mereka Allah memberikannya berupa pembebasan mereka dari siksa neraka dengan kuasa-Nya (Al Hail). 713
Shahih Ibnu Hibban Nomer 1672