Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani
صحيح ابن حبان ٦١٠: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي السَّرِيِّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِرَجُلٍ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ، فقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ، فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: دَعْهُ لَفْظَةُ زَجْرٍ يُرَادُ بِهَا ابْتِدَاءُ أَمْرٍ مُسْتَأْنَفٍ.
Shahih Ibnu Hibban 610: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu As-Sari menceritakan kepada kami, Abdurazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melewati seorang laki-laki yang menasihati saudara laki-lakinya tentang masalah -sikap- malu, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”404 Abu Hatim berkata, “Kata da ’hu (biarkanlah ia) adalah kalimat larangan, yang dimaksudkan sebagai kalimat pembuka.
Shahih Ibnu Hibban Nomer 610