Hadits Shahih Ibnu Hibban

Hadits Shahih Ibnu Hibban

Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban atau Hatim at-Tamimi al-Busti as-Sijistani

Biografi Ibnu Hibban


صحيح ابن حبان ٨٤٧: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ سُرَيْجٍ النَّقَّالُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْيَمَانِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا مَرَرْتُمْ بِقُبُورِنَا وَقُبُورِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخْبِرُوهُمْ أَنَّهُمْ فِي النَّارِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ أَمَرَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْخَبَرِ الْمُسْلِمَ إِذَا مَرَّ بِقَبْرِ غَيْرِ الْمُسْلِمِ، أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ جَلَّ وَعَلاَ عَلَى هِدَايَتِهِ إِيَّاهُ الإِسْلاَمَ، بِلَفْظِ الأَمْرِ بِالإِخْبَارِ إِيَّاهُ أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يُخَاطَبَ مَنْ قَدْ بَلِيَ بِمَا لاَ يَقْبَلُ عَنِ الْمُخَاطِبِ بِمَا يُخَاطِبُهُ بِهِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 847: Ahmad bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al Harits bin Suraij An-Naqqal54 menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Al Yaman menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apabila kalian melewati kuburan kami dan kuburan kalian yang di dalamnya terdapat (jasad) orang-orang Jahiliyyah, maka berilah kabar kepada mereka bahwasanya mereka (orang-orang Jahiliyah itu) akan berada di dalam neraka.”55 (1:83) Abu Hatim RA berkata: “Dalam hadits ini, Al Musthafa shallallahu 'alaihi wa sallam, memerintahkan seorang muslim yang melewati kuburan non-muslim untuk memuji Allah SWT (membaca Alhamdulillah) atas hidayah Islam yang telah diberikan kepadanya, tetapi perintah itu disampaikan dengan menggunakan lafazh perintah untuk memberikan kabar kepada penghuni kubur (non-muslim) itu bahwa ia akan menjadi penghuni neraka. Pemahaman ini diambil karena tidaklah mungkin orang yang sudah mati dapat diajak bicara dengan pembicaraan yang tidak bisa didengarnya.”

Shahih Ibnu Hibban Nomer 847