Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury
صحيح ابن خزيمة ١٢٧٢: حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكٍ قَالَ: سَمِعْتُ الْمُهَلَّبَ بْنَ أَبِي صُفْرَةَ يَقُولُ: قَالَ سَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُصَلُّوا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ، وَلَا حِينَ تَغْرُبُ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَتَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ» وَفِي خَبَرِ الصُّنَابِحِيّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ وَمَعَهَا قَرْنُ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا ارْتَفَعَتْ فَارَقَهَا» دِلَالَةٌ عَلَى أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَهَى عَنِ الصَّلَاةِ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ قَدْ نَهَى عَنِ الصَّلَاةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ " وَكَذَا خَبَرُ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ: «حَتَّى تَرْتَفِعَ» خَرَّجْتُ هَذَيْنِ الْخَبَرَيْنِ فِي غَيْرِ هَذَا الْبَابِ "
Shahih Ibnu Khuzaimah 1272: Bundar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Simak, ia berkata: Aku mendengar Al Muhallab bin Abu Shufrah berkata: Samurah bin Jundub berkata: Diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Janganlah kamu shalat saat matahari terbit dan jangan pula ketika matahari tenggelam, karena sesungguhnya ia tenggelam di antara dua tanduk syetan dan terbit di antara dua tanduk syetan." Di dalam hadits Ash-Shunabihi, yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya matahari terbit dengan membawa tanduk syetan apabila ia telah meninggi maka ia meninggalkannya" sebagai dalil bahwa Nabi ketika melarang shalat pada waktu tersebut juga menjelaskan bahwa beliau melarang shalat setelah matahari terbit sampai ia meninggi. Begitu juga hadits riwayat Amr bin Abasah yang menyebutkan, "Sampai ia meninggi." Aku telah meriwayatkan kedua hadits ini dalam bab yang lain.
Shahih Ibnu Khuzaimah Nomer 1272