Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury
صحيح ابن خزيمة ٩٧١: ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَنَّ مَالِكًا حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا، فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ مَالِكٌ: أَرَى ذَلِكَ كَانَ فِي مَطَرٍ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: لَمْ يَخْتَلِفِ الْعُلَمَاءُ كُلُّهُمْ أَنَّ الْجَمْعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي الْحَضَرِ فِي غَيْرِ الْمَطَرِ غَيْرُ جَائِزٍ، فَعَلِمْنَا وَاسْتَيْقَنَّا أَنَّ الْعُلَمَاءَ لَا يُجْمِعُونَ عَلَى خِلَافِ خَبَرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحِيحٌ مِنْ جِهَةِ النَّقْلِ، لَا مُعَارِضَ لَهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ عُلَمَاءُ الْحِجَازِ أَنَّ الْجَمْعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي الْمَطَرِ جَائِزٌ، فَتَأَوَّلْنَا جَمْعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَضَرِ عَلَى الْمَعْنَى الَّذِي لَمْ يَتَّفِقِ الْمُسْلِمُونَ عَلَى خِلَافِهِ، إِذْ غَيْرُ جَائِزٍ أَنْ يَتَّفِقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى خِلَافِ خَبَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرْوُوا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرًا خِلَافَهُ، فَأَمَّا مَا رَوَى الْعِرَاقِيُّونَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ، فَهُوَ غَلَطٌ وَسَهْوٌ، وَخِلَافُ قَوْلِ أَهْلِ الصَّلَاةِ جَمِيعًا، وَلَوْ ثَبَتَ الْخَبَرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَمَعَ فِي الْحَضَرِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ لَمْ يَحِلَّ لِمُسْلِمٍ عَلِمَ صِحَّةَ هَذَا الْخَبَرِ أَنْ يَحْظُرَ الْجَمْعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي الْحَضَرِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ، فَمَنْ يَنْقِلُ فِي رَفْعِ هَذَا الْخَبَرِ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ وَلَا مَطَرٍ، ثُمَّ يَزْعُمُ أَنَّ الْجَمْعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ عَلَى مَا جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا، غَيْرُ جَائِزٍ، فَهَذَا جَهْلٌ وَإِغْفَالٌ غَيْرُ جَائِزٍ لِعَالِمٍ أَنْ يَقُولَهُ
Shahih Ibnu Khuzaimah 971: Yunus bin Abdul A'la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami bahwa Malik meriwayatkan kepadanya, dari Abu Az-Zubair Al Makki, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah pernah shalat Zhuhur dan Ashar dengan menggabungkan keduanya serta shalat Maghrib dan Isya juga dengan menggabungkan keduanya ketika tidak dalam keadaan takut atau dalam perjalanan.” Malik berkata, “Aku berpendapat hal itu disebabkan karena hujan." Abu Bakar berkata, “Semua ulama sepakat bahwa menggabungkan antara dua shalat ketika bermukim dan tidak dalam kondisi turun hujan tidak diperbolehkan, dan kita telah mengetahui dan menyetujui bahwa para ulama tidak akan menyepakati perkara yang bertentangan dengan hadits Nabi yang shahih secara penukilan dan tidak menyelisihi apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan para ulama Hijaz sepakat bahwa menggabungkan antara dua shalat ketika turun hujan itu dibolehkan. Oleh Karena itu, kita selayaknya menakwilkan penggabungan shalat yang dilakukan Nabi ketika bermukim sesuai dengan pemahaman kaum muslimin yang tidak membenarkan pendapat yang bertentangan dengannya, sebab kaum muslimin tidak diperbolehkan bersepakat terhadap sesuatu yang bertentangan dengan hadits Nabi tanpa didasarkan pada hadits Nabi yang menjelaskan perbedaannya. Adapun yang diriwayatkan oleh ahli Irak bahwa Nabi telah menggabungkan shalat ketika berada di Madinah tidak dalam kondisi takut atau pun tidak turun hujan adalah periwayatan yang salah dan hanya mengikuti hawa nafsu serta bertentangan dengan pendapat semua kaum muslimin. Seandainya telah ditetapkan kebenaran hadits dari Nabi bahwa beliau telah menggabungkan shalat ketika berada di tempat tidak dalam kondisi takut atau tidak turun hujan, maka seorang muslim yang mengetahui kebenaran hadits tersebut tidak dibenarkan menjadikan alasan menggabungkan antara dua shalat ketika bermukim tidak dalam kondisi takut atau turun hujan. Siapa pun yang menukil dengan menggunakan riwayat yang marfu' bahwa Nabi telah menggabungkan antara kedua shalat tersebut tidak dalam keadaan takut atau tidak dalam kondisi bepergian atau turun hujan, kemudian ia mengatakan bahwa menggabungkan antara dua shalat sama dengan yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak diperbolehkan, maka ini adalah kebodohan dan kekeliruan yang tidak selayaknya dilontarkan oleh seorang ahli ilmu.”
Shahih Ibnu Khuzaimah Nomer 971